Tuesday, July 7, 2009

Flores I’m in Love


Pada suatu siang yang malas, pak Hendar, dosen geologi struktur saya bercerita tentang Kelimutu, tentang Flores. Saya pun jatuh cinta pada pendengaran pertama…

Enam tahun kemudian, kesempatan itu datang. Rasanya hampir seperti ketika datang hari pertama kerja di tempat baru; penuh khayalan, dan sebagian besar harap-harap-cemas. Membayangkan tempat baru yang akan saya sambangi membuat saya sedikit sesak nafas dan tidak sabar.

Perjalanan kali ini tidak main-main. Sudah direncanakan jauh hari sebelumnya. Dari yang paling penting seperti mengatur roster kerja untuk memantapkan itinerary, menghubungi kolega-kolega di tempat tujuan--bahwa saya akan segera merepotkan mereka, sampai ke yang remeh-temeh seperti akan bawa baju dan underwear berapa, sudah diperhitungkan (niatnya travel light) dengan matang.

Bukan kebetulan jika setelah lulus kuliah saya langsung bekerja mencari sejumput mineral kuning menyilaukan mata di suatu perusahaan asing nun jauh di pedalaman Halmahera Utara. Begitu juga travel mate saya, Gina, yang bekerja di sebuah teluk di lengan timur Halmahera. Karena hal ini mendekatkan mimpi saya untuk ke Flores dan memudahkan saya dan Gina menentukan titik bertemu. Tentu saja Menado!—daripada jauh-jauh bertemu di Jakarta, misalnya.

Setelah dihitung-hitung, 14 hari total cuti yang kami miliki hanya memungkinkan perjalanan dimulai dari Ende dan berakhir di Labuan Bajo (dengan sangat menyesal Larantuka harus kami hapus dari must visit lists). Itupun sudah dihemat waktunya dengan terbang langsung Denpasar-Ende untuk rute pergi dan Labuan Bajo-Denpasar untuk rute pulang dan bukan menggunakan transport penuh cerita; melewati laut atau darat .

Hari Jum’at, burung besi itu mengantarkan kami dari Menado ke Makasar yang kemudian menyambungkan penerbangan selanjutnya ke Denpasar. Penerbangan ke Ende terpaksa kami lanjutkan lusanya, karena Merpati hanya menyediakan penerbangan ke Ende sebanyak 3 kali setiap minggunya; yaitu Rabu, Jum’at dan Minggu. Mengapa kami tidak memulai perjalanan satu hari lebih cepat? Tentu saja karena ketidakpintaran kami melobi manajer supaya memberi kami cuti satu hari lebih cepat. Tapi lumayanlah, bisa keliling Kuta dulu...

Sabtu sore, hampir puas kami keliling Kuta-Legian tiba-tiba Merpati memberi kabar bahwa penerbangan kami ke Ende dialihkan ke Maumere. “..loh..kok bisa gitu si mbak..? trus bagaimana kami ke Ende..bla..bla..”, pura-pura komplain, padahal senang juga; asyik, jadi bertambah satu destinasi lagi... Jadilah hari Minggunya kami terbang ke Maumere, bukan ke Ende. Seorang teman berpesan jangan lupa ambil seat sebelah kiri untuk ke Ende, pemandangannya lebih bagus. Tapi walaupun tujuan Maumere saya dan Gina masing-masing tetap meminta seat sebelah kiri pesawat. Ternyata sebelah kiri atau kanan sama bagusnya. Sayang semua seat terisi dan tentu saja kami tidak bisa seenaknya pindah-pindah. Merpati Fokker 100 yang membawa kami tiba di Maumere sekitar jam 4 sore, airline yang masih bersaudara dengan Garuda Indonesia itu bertanggung jawab dengan memberi kami transport darat ke Ende beserta lima korban lainnya. Saya meng-sms teman di Halmahera yang kebetulan asli Flores untuk memberi tahu kabar terkini kami. Dia membalas, “..welcome to unpredictable world my friends..”. Meski begitu, kami terlanjur terkesan dengan keramahan yang ditawarkan ketika pertama kali menginjak Flores; di Maumere kami sudah disambut dengan senyuman bersahabat. Dan ini ternyata akan kami tangkap sepanjang perjalanan nanti…

Seharusnya kami tiba di Ende jam 12 siang dan masih punya waktu untuk ke museum Bung Karno atau ke Gunung Meja sebelum sorenya melanjutkan perjalanan ke Moni. Tapi karena kami terlanjur mendarat di Maumere, tujuanpun berubah langsung ke Moni, karena jalan trans Flores dari Maumere melewati Moni terlebih dahulu. Perjalanan Maumere-Moni memakan waktu sekitar 4 jam. Hari sudah cukup gelap dan pemandangan selama perjalanan sudah cukup susah untuk dinikmati. Kami hanya bisa merasakan semakin dekat ke Moni udara semakin dingin dan jalan semakin menanjak dengan liku lebih banyak. Mama Hendra, istri teman kerja saya, terlihat lega sekaligus senang ketika akhirnya kami tiba sekitar jam 9 malam di Bintang Cafe Moni miliknya, semacam cafe kecil dengan kamar penginapan yang menyenangkan di kaki Gunung Kelimutu. Mama Hendra sangat pengertian, kami langsung dipersilahkan ke cafenya. Sepasang bule yang sedang ngobrol di cafe tersenyum ketika kami melewati mereka menuju ke suatu meja dimana ayam panggang lengkap dengan sambal dan sayur bening sudah disiapkan mama Hendra untuk makan malam kami. Pasangan itu juga akan ke Kelimutu besok pagi-pagi sekali.

Hari masih seperti malam ketika mama Hendra membangunkan kami sekitar jam 4 subuh. Udara luar biasa dingin. Air mandi seperti es. Kami hanya berani mencuci muka. Sepasang bule yang tadi malam sudah duluan rupanya. Mereka mencarter sebuah mobil dan berangkat sekitar 15 menit yang lalu. Dua kendaraan beroda dua sudah menanti kami. Udara yang dingin mengigit kami siasati dengan merapatkan jaket tebal yang kami pakai dan berkaos kaki. Roda dua pilihan tepat, roda empat tidak segesit roda dua melewati kelokan yang tajam dan sempit. Buktinya, di pemberhentian terakhir kendaraan, kami masih bisa melihat pasangan bule itu saat mereka mulai melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Kamipun ikut berjalan dengan sedikit berlari mengejar sunrise di puncak Kelimutu. Perjalanan ke puncak hanya menghabiskan waktu sekitar 40 menit. Kami punya waktu sekitar 10 menit mengatur nafas sebelum cahaya matahari pertama pagi itu muncul dihadapan kami. Cerita selanjutnya adalah keindahan sunrise dan kawah tiga warna Kelimutu yang hanya bisa saya sampaikan lewat foto-foto saya yang juga sayangnya tidak seindah aslinya.
Please visit:

Belum puas menikmati Kelimutu dan Moni, kami sudah harus segera berangkat ke Riung. Dari Moni kami menggunakan angkutan mini bus menuju Ende, 20 ribu rupiah per orang. Perjalanan sekitar 2,5 jam ke Ende amat sangat tidak membosankan. Topografi yang terjal menghimpit sungai dan kadang petak-petak sawah yang kecil memukau mata. Tebing-tebing terkadang dengan air yang terjun bebas membuat bibir saya menganga tanpa terasa. Belum lagi senyuman tulus masyarakat setempat yang kami temui sepanjang bus berhenti menurunkan penumpang atau ketika bus berjalan pelan saat melewati keramaian aktifitas jual-beli (saya melihat kain tenun Ende yang bagus sekali, ah, saya akan mencarinya di Labuan bajo). Juga, pemandangan yang saya cemburui setengah mati dari sepasang suami istri paruh umur disamping saya yang betah saling menggenggam tangan pasangannya sampai mereka beranjak turun. Saya merasa inilah potret keramahan Indonesia sesungguhnya, keramahan yang kita banggakan itu. Kamera saya yang hanya digital poket biasa tidak kuasa menangkap ekstrimnya pemandangan alam dan sosial-budaya itu. Dia pun kecewa, saya kira.

Di Ende, ada dua terminal bus. Terminal Wolowona untuk berangkat ke arah timur, dan terminal Ndao untuk berangkat ke arah barat. Tujuan kami adalah ke Riung melewati Mbay. Artinya kami ke arah barat, jadi kami berhenti di terminal Ndao. Bus yang akan mengantar kami ke Riung adalah bus Gemini, satu-satunya bus yang berangkat ke Riung dari Ndao, Ende. Beruntung kami punya nomor ponsel sang pengendara bus (yang kami dapat dari seorang teman di Riung) hingga kami bisa mewanti-wanti minta ditunggu sebentar seandainya kami terlambat tiba di Ndao (sedikit egois memang, karena kalau tidak kami harus menunggu sampai besoknya lagi). Kami tiba tepat satu jam sebelum jadwal keberangkatan bus. Tapi kami tidak segera berangkat. Karena harus menambal ban, bus yang seharusnya berangkat jam satu siang jadi molor sampai hampir setengah empat sore. Sambil menunggu kami leyeh-leyeh di sebuah kios kelontong yang dipenuhi anak-anak muda. Mereka, jauh dari kesan iseng, mengajak kami kenalan dan minta foto bersama. Ternyata mereka mengira kami presenter sebuah acara petualangan..ahahhaaa... :D

Dari Ende ke Riung ongkosnya 40 ribu rupiah dengan waktu perjalanan kurang lebih 5 jam. Selain jauh, sebagian kondisi jalan memang sudah butuh perbaikan. Terutama setelah melewati Mbay. Sang sopir, opa Agus, dengan sigap memutar lagu dangdut dengan speakernya yang agak berisik menyesuaikan lintasan jalan yang membuat penumpangnya bergoyang kiri-kanan. Jalan dangdut, katanya.

Perjalanan setelah Mbay menuju Riung menyuguhkan pemandangan yang romantis. Saat itu hampir senja. Langit jingga tak menghapus hijaunya savana perbukitan di kiri-kanan kami. Indah. Di kejauhan tampak perbukitan runcing yang perlahan mendekat namun segera menghilang karena hari mulai gelap sebelum kami sempat betul-betul dekat dengan bukit yang bahkan opa Agus pun tak tahu namanya itu. Memasuki wilayah Riung jalan semakin sempit oleh semak yang menutupi tepi jalan, hingga tampak hanya bisa dilewati satu kendaraan, seolah jalan ini dibuat hanya untuk opa Agus mengantar penumpangnya dari dan ke Riung.

Di Riung, kami menginap di Nirvana Bungalows. Sebuah penginapan nyaman yang dimiliki oleh Rustam Effendi, biasa dipanggil Tam. Ratenya pun tidak terlalu mahal untuk ukuran daerah wisata, 125 ribu rupiah per malam. Sebagai turis lokal, Tam melayani kami lebih sebagai teman. Dia bersedia mengantar kami dengan motornya keliling Riung, atau sekedar menemani makan malam selama dua malam kami disana (karena ditempatnya tidak ada tempat untuk makan dan, bagi-bagi rejeki, katanya) termasuk mengantar--dan menjemput kami ke dermaga dan mencarikan kami perahu yang bisa kami sewa untuk keliling Taman Laut Tujuh Belas Pulau.

Taman Laut Tujuh Belas Pulau sendiri sebenarnya terdiri dari 21 pulau. Tujuh belas dicatut karena dianggap angka penting republik ini, 17 Agustus. Selain itu, menurut Tam, penduduk sekitar menganggap tujuh belas adalah usia seorang remaja dianggap dewasa dan sedang menarik-menariknya, sehingga diharapkan taman ini dapat menarik perhatian pengunjung oleh pesona laut dan pulau-pulaunya.

Takut merasa kurang puas, kami berangkat pagi-pagi sekali. Perahu yang kami sewa 300 ribu dari pagi sampai sore itu bisa memuat sampai 10 orang sebenarnya. Tapi apa mau dikata, ada sekitar 8 pengunjung yang bisa saya hitung datang dihari yang sama, dan yang turis lokal hanya kami berdua. Bule-bule itu sudah menyerahkan kenyamanan perjalanan kepada guide-guide mereka. Dan pastinya mereka sudah mengatur sendiri untuk urusan itu—tidak mungkin bergabung dengan kami, atau sebaliknya.

Saya tidak tahu persis berapa luas Taman Laut Tujuh Belas Pulau. Yang saya hitung adalah perjalanan antar 3 pulau yang kami kunjungi rata-rata memakan waktu 15-30 menit. Perjalanan pulang tentu memakan waktu paling lama, karena kami memulai dari pulau yang terdekat.

Pulau Kelelawar, Pulau Rutong dan Pulau Tiga adalah pulau-pulau yang sempat kami kunjungi di sana. Tidak banyak memang, tapi cukuplah mewakili keunikannya. Dinamakan Pulau Kelelawar karena ribuan kelelawar menggelantung di pohon-pohon bakau pulau itu. Tampaknya mereka sudah menyesuaikan diri dengan gangguan pagi oleh tamu-tamu macam kami yang jarang melihat ribuan kelelawar berkumpul di suatu tempat dan dengan sengaja membuat gaduh hanya untuk melihat mereka berterbangan. Di sekitar Pulau Rutong cukup menarik untuk bersenorkeling-ria. Pasir putih di pantai Pulau Rutong dengan pemandangan Riung di selatannya membuat kami betah berlama-lama disana. Pulau Tiga mendapat namanya karena memiliki tiga bukit kerucut. Pasirnya yang putih dan lautnya yang jernih pas sekali untuk berenang. Sayangnya harapan kami mendapat spot senorkeling yang lebih menarik tidak kami temui di sini. Menjelang sore kami baru pulang.

Esok paginya, kami melanjutkan perjalanan ke Bajawa. Jam 6 pagi bus yang juga berjudul Gemini itu menjemput kami di penginapan Tam—ya, tentu saja mereka sudah saling kenal. Bus Gemini jurusan Riung-Bajawa ini sudah biasa ‘menjemput bola’. Berkeliling kampung mencari penumpang, atau kadang para penumpang sudah menghubungi dan sang sopir tidak keberatan menjemput mereka (termasuk kami) satu-satu dan menghabiskan waktu satu jam-an untuk itu. Padahal ongkosnya 20 ribu rupiah saja, tapi sudah termasuk jemput-antar.

Udara sejuk menyambut kami di Bajawa, ibukota kabupaten Ngada yang terletak terletak di ketinggian 1100 mdpl, pukul 9.30 pagi itu. Sejuknya mengalahkan Moni! Om Melky—paman teman saya yang sudah saya hubungi sebelumnya, dan keluarganya, menyalami kami ramah. Kami bahkan baru kenal! Tapi mereka adalah tuan rumah yang menyenangkan. Kami langsung tancap gas. Banyak tempat yang bisa kami kunjungi seandainya kami punya waktu lebih dari 10 jam di Bajawa. Desa adat Bena di kaki Gunung Inerie wajib dikunjungi. Desa megalitik yang masih dihuni keturunannya ini sangat menarik, terawat dan asri, dengan latar belakang Gunung Inerie yang menjulang cantik. Sadar badan kurus kami akan menggigil kedinginan jika kami mandi di rumah om Melky, maka kami memutuskan mandi di pemandian air panas So’a di kecamatan So’a, sekitar 20 menit ke utara dari kota Bajawa. Sayangnya, meski aksesnya lumayan baik, tidak ada kendaraan umum melewati tempat ini, harus membawa kendaraan sendiri. Air panas yang bersumber dari mata air panas Gunung Inelika ini sangat pas menghilangkan pegal dan capek. Dengan kolam-kolam pemandian yang dirancang selalu mengalir, kami pun lupa waktu...

Pagi berikutnya, daripada menggigil, kami memilih tidak mandi, walau perjalanan panjang akan kami mulai pagi ini. Lagi-lagi bus berjudul Gemini yang menjemput kami di pekarangan rumah om Melky untuk ke Labuan Bajo, tujuan terakhir kami di Flores ini. Bus itu memang menjemput kami tepat waktu, tapi kami tetap menunggu di terminal lebih dari 1 jam. Untunglah senyuman masyarakat yang hilir-mudik sekitar terminal cukup menghibur...

Perjalanan Bajawa-Labuan bajo adalah rute darat terpanjang kami. Dengan waktu tempuh kurang lebih 10 jam. Melewati Aimere, singgah satu kali di Borong untuk makan siang dan beberapa kota kecil yang tidak sempat saya perhatikan namanya karena terpesona pemandangan alam sepanjang jalan dan kadang karena mengantuk juga. Saya bertahan untuk tidak tertidur. Perbukitan khas minus pohon nan hijau dan sawah-sawah yang menguning (terutama saat melewati wilayah Ruteng dan Lembor) terlalu sayang untuk saya lewati. Kami tidak singgah di Danau Ranamese, tidak mungkin meminta berhenti dengan angkutan umum yang kami tumpangi. Pemandangan danau yang harusnya tetap bisa kami lihat dari jalan yang kami lewati juga ternyata terhalang tembok konyol yang entah dibangun untuk tujuan apa. Kami juga tidak sempat melihat Lingko, sawah berbentuk jaring laba-laba yang terkenal itu. Tapi tak apa, membalas hangatnya senyuman penduduk yang tengah memanen padi di tepi-tepi sawah mereka dengan wajah yang dipolesi bedak dingin saya kira cukup membayarnya.

Memasuki kota Labuan Bajo, jalan aspal sudah mulai rusak. Kelak kami sadari ternyata di dalam kota Labuan Bajo juga tidak jauh berbeda. Infrastrukturnya cukup menyedihkan untuk ukuran ibukota kabupaten hasil pemekaran kabupaten Manggarai pada tahun 2003 yang kini menjadi tujuan utama wisata laut yang keindahannya sudah mendunia itu.

Tepat adzan magrib, kami tiba di rumah pak Andi Fono, teman kerja saya lainnya yang mau menampung kami (kami beruntung, kecuali di Riung, di mana kami berpijak di Flores, kami punya teman dan keluarga yang bisa kami singgahi). Kami disambut dengan makan malam ikan bakar dan sayur bayam yang dicampur bunga pepaya, khas sana. Ahh...

Setelah menatap dari dekat kawah Kelimutu, keinginan saya bertambah, yaitu ingin menyaksikan keindahan bawah laut di barat Flores, di pulau-pulau kecil sekitar Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Maka salah satu tujuan kami ke Labuan Bajo adalah untuk mengambil lisence menyelam (tentu saja kami butuh ini untuk memulainya). Butuh waktu 4 hari untuk itu. Meski banyak yang berkata menyelam di sini bukan untuk pemula, kami tetap nekat karena Bajo Dive Club, diving centre tempat kami akan mengambil lisence menyanggupi untuk mengajari kami yang sama sekali belum tahu-menahu cara bernafas di bawah laut dengan bantuan tabung udara ini.

Hari pertama diisi dengan materi dan praktek menyelam di kolam. Frank, instruktur kami yang asli Jerman namun lumayan fasih berbahasa Indonesia, cukup yakin mengajak kami langsung menyelam di laut pada hari kedua. Inilah discovery diving saya dan saya langsung bertemu dengan Blue Spotted Fantail Stingray! Hari ketiga dan keempat adalah pengalaman menyelam tak terlupakan. Kami menyelam sekitar Pulau Bidadari, Sabolon Besar, Sabolon Kecil, Sebayur Kecil dan merasakan pengalaman drifting di Pulau Tatawa Besar. Keindahan di permukaan sekitar pulau-pulau ini tidak terbantahkan. Langit dan laut biru, pasir putih, pulau-pulau kecil yang tandus berserakan, lengkap.

Namun keindahan bawah lautnya juga sungguh luar biasa. Kami memang tidak bertemu sang Pari Manta yang legendaris, tetapi Bannerfish, Giant Mordy, Unicorn, Clown Trigger Fish, Niger, Redfin, Basslet dan ikan-ikan yang belum pernah saya lihat sebelumnya berseliweran di depan mata. Ikan-ikan kecil macam Anemofish dan Fusilier juga sering sekali kami jumpai malu-malu di antara terumbu warna-warni yang nampak rapuh, sesekali berbaur dengan Nudibranch berwarna menyolok dan bergerak lamban yang kadang nampak terjepit di antara lubang-lubang terumbu. Saya benar-benar lupa daratan. Saya bahkan menjerit di dalam laut! Saya tidak tahu lagi bagaimana mengekspresikan perasaan saya saat itu. Sayang saya belum bisa mengabadikannya dalam jepretan. Yang saya tahu saya jatuh cinta, sudah pasti.

Belum lengkap rasanya jika kita berkunjung ke Labuan Bajo tapi tidak melihat komodo yang tersohor itu. Hari terakhir sebelum pulang kami sempatkan untuk melihat si kadal raksasa di Pulau Rinca dan Pulau Komodo yang termasuk dalam Taman Nasional Komodo. Kami memutuskan ke Pulau Rinca terlebih dahulu, baru ke Pulau Komodo yang lebih jauh. Karena pelayaran cukup panjang, kami berangkat lebih pagi dari Labuan Bajo. Pukul 6.30 WITA kapal yang kami sewa 700 ribu seharian ini sudah menarik jangkarnya dan menjauh dari pelabuhan. Selain aksesnya yang harus menyewa kapal karena tidak ada angkutan laut umum menuju taman nasional ini, ternyata tiket masuknya pun cukup mahal, 100 ribu rupiah untuk pengunjung umum domestik. Jadilah ini taman nasional dengan biaya transportasi dan administrasi termahal yang pernah saya datangi.

Untuk melihat komodo, kami harus mencarinya di jalur-jalur trekking yang sudah dibuat sehingga pengunjung boleh memilih lintasan sesuai kemampuan dan waktu yang tersedia. Kami memilih jalur trekking medium yang jauhnya kira-kira 2 km atau sekitar 1 jam berjalan kaki. Dengan wajib ditemani pemandu yang bersenjatakan tongkat dengan ujung yang mirip ketapel, ternyata tidak mudah untuk bertemu si empunya ludah berbisa itu. 15 menit pertama kami hanya menjumpai banteng dan rusa yang dibiarkan hidup liar (perburuan tentu saja dilarang di sini), mangsa komodo. Namun perjalanan tidak terasa membosankan. Sambil kami mengagumi lansekap uniknya yang meski minus pohon tapi tetap menarik, Sang pemandu mengisi perjalanan dengan banyak menjelaskan keanekaragaman hayati Pulau Rinca dan tentang si komodo itu sendiri. Sepanjang perjalanan, kami hanya menemukan 2 ekor komodo remaja, tapi itu sudah cukup bagi kami. Bahkan pemandu kami berkata, terkadang mereka membawa tamu namun tidak bertemu komodo sama sekali. Kami tentu tidak melewatkan Pulau Komodo. Keindahan pemandangan membuat 2 jam pelayaran dari Pulau Rinca ke Pulau Komodo terasa menyenangkan. Pulau Komodo lebih kecil dari Pulau Rinca, namun sama indahnya. Populasi komodo ternyata lebih banyak di Pulau Rinca daripada di Pulau Komodo sendiri. Kami bertemu 3 ekor komodo di pulau ini.

Saya mencatat, para pemandu atau jagawana yang handal, jalur-jalur trekking yang dibuat sedemikian rupa melewati titik-titik dengan pemandangan alam dan lansekap yang unik di hutan dan padang rumput yang lestari, hewan-hewan liar yang dijaga populasinya agar komodo selalu dapat berburu makan, fasilltas umum yang memadai, bebas sampah, saya kira biaya administrasi tersebut masuk akal juga.

Menjelang sore, kami harus segera pulang. Pelayaran ke Labuan Bajo paling tidak menghabiskan waktu 5 jam. Kami terpaksa membatalkan rencana berenang di Pantai Merah, salah satu pantai pasir putih di Pulau komodo. Pelayaran pulang diakhiri dengan sunset dramatis terakhir kami di sini...

Banyak hal dan tempat lain yang bisa kami lakukan dan kami kunjungi di sekitar Labuan Bajo, sebenarnya. Goa cermin, misalnya. Tapi waktu kami habis. Lagipula, tidak ada acara berburu souvenir, karena di Labuan Bajo tidak menyediakan untuk itu. Saya juga tidak menemukan kain yang saya lirik waktu saya melewati Ende (dan baru kami sadari belakangan, tiap daerah memiliki corak kain tenun sendiri). Mungkin penduduk sini—dan Flores umumnya, belum sekomersil penduduk di sekitar Kuta, Legian, atau Malioboro misalnya.

Ahh...perjalanan harus berakhir. Indonesia Air Transport (IAT) mengantarkan kami terbang dari Bandara Komodo ke Denpasar tepat waktu. Tidak lupa kami meminta untuk duduk di seat sebelah kiri. Paling tidak, kami masih bisa memandangi pulau-pulau yang akan selalu kami rindukan itu sekali lagi. Sampai saat ini, saya masih menyesal meninggalkan Flores. Tapi saya tau, saya pasti kembali.