Sunday, August 16, 2009

Saya Cinta Indonesia


Iya kah? Wah, jujur kalau itu saya sendiri belum bisa menjawab... Makna mencintai yang saya punya lebih cocok untuk cinta terhadap makhluk Tuhan; apakah itu keluarga, sahabat, terutama lawan jenis (sebut saja; Cinta 1), dan tidak begitu cocok untuk cinta terhadap Indonesia (sebut saja; Cinta 2).

Ketika saya jatuh cinta dengan Cinta 1, lawan jenis saya, saya lebih sering merasa berbunga-bunga. Setiap hari adalah indah. Setiap suara adalah nyanyian. Surga pindah ke bumi. Nyatanya, saya tidak merasakan hal-hal itu untuk menjawab "ya" jika saya ditanya cintakah saya dengan Cinta 2?
Untuk Cinta 1 saya mau melakukan apa saja, kadang tanpa dipikir. Tapi untuk Cinta 2, saya belum tentu mau. Kalaupun mau, saya mesti berpikir berkali-kali, padahal belum tentu mampu.
Jika salah satu definisi cinta yang saya punya adalah "memberi", saya juga tidak pernah merasa memberi apa-apa untuk Cinta 2. Kecuali, membayar pajak penghasilan setiap bulan sudah masuk dalam kategori "memberi".
Jika mencintai boleh posesif; bukankah perasaan memiliki muncul dari sulitnya perjuangan untuk mendapatkan sesuatu (Cinta 2) yang kita cintai itu? Maka, pantaskah saya merasa memiliki tanpa harus berjuang dan atau memaknai perjuangan?
Jika mencintai berarti kamu adalah aku dan juga sebaliknya, maka saya akan mengamuk ketika Cinta 1 saya diintimidasi, dihina, dilukai atau direndahkan martabatnya. Sebaliknya Cinta 2; saya tidak melakukan apa-apa ketika anak-anak muda negara tetangga menjelek-jelekkan (rakyat) Indonesia. Juga tenang-tenang saja ketika Ambalat akan dicaplok. Atau ketika gembong teroris yang kabarnya (juga) dari negara sebelah mengganggu keamanan negara, saya hanya duduk manis mengikuti perkembangan pencariannya melalui kotak bergambar sambil sedikit menyesali kenapa saya tidak mempunyai keahlian yang mampu menghabiskan mereka dari jarak jauh hanya dengan satu kedipan mata?

Jadi, cinta kah saya? Meski cinta menuntut bukti--yang saya tidak punya, saya tetap menjawab "ya". Ah, saya cinta Indonesia. Meski darah saya belum pernah tertumpah untuk Indonesia Raya, meski tidak becus berbahasa Indonesia, saya cinta. Kemudian, sebagian Anda akan menganggap cinta saya semu dan seperti benalu.

Banyak cara mengungkapkan cinta; Dirgahayu ke-64 Indonesiaku!