Friday, September 11, 2009

Kepada Cinta


Hey...apa kabarmu? Aku harap kamu selalu sehat. Kamu pasti bertanya-tanya kira-kira apa isi surat elektronik ini, selain berpikir; tumben sekali aku kirim-kirim surat segala? Yah..tentunya kamu akan heran jika kukatakan bahwa ini adalah ungkapan perasaanku untukmu; bukannya kamu tahu perasaanku untukmu? Tak apalah kukatakan lagi, lewat surat elektronik ini, agar kamu dapat membacanya berulang-ulang dan memahami kalimat-kalimatku yang pasti tidak beraturan. Aku juga tidak keberatan jika kamu ingin menyimpannya di hardisk-mu, atau jika kamu ingin menyimpan print-out-nya dalam dompetmu. Hahaa...
Hey...masih ingat kah kamu waktu pertama kali kita bertemu? Kamu membuat teman-temanku menunggu. Ternyata kita cocok sejak saat itu, ya? Hari berlalu, pertemanan kita terjalin karena aku mengagumimu. Hoho, siapa yang tidak kagum dengan segala kecerdasanmu? Kadang kamu membuatku minder karena itu. Tapi aku tidak malu, toh, aku tidak sedang ingin menarik perhatianmu. Tahun berlalu, aku banyak belajar darimu, dengan caramu sendiri, kekagumanku menjadi-jadi. Ah, ternyata kedekatan kita menumbuhkan rasa yang lain..rasa yang sama sekali tidak pernah aku bayangkan. Reaksi kimia itu terjadi antara kita. Aku menyukaimu dengan sederhana; menyukai caramu berpikir, caramu menyeka keringatku, caramu memandangku dengan senyum tipismu nan mahal ketika aku dengan rakus melahap nasi bungkus, menyukai caramu menghisap dalam rokokmu dengan mata yang menerawang--dan aku tahu pasti pikiranmu tidak sedang disitu, aku juga menyukai mimpi-mimpimu!. Aku tidak pernah berharap kamu akan menyukaiku lebih dari sekedar adik manis. Bukannya tidak pernah terpikirkan lho...hanya saja, seperti pungguk merindukan bulan (jjiiiaahhh....). Aku tahu, secara fisik kamu menyukai gadis berambut pendek seperti aku ketika itu. Tapi aku kan tidak secerdas yang kamu mau?
Nyatanya, malam itu, 11 September, 5 tahun yang lalu, setelah melewati hari-hari dan detik-detik penuh kejadian mendebarkan (masih ingat kejadian-kejadian yang selalu ingin kita ulang itu, kan?), kita berikrar untuk bersama. Ahh...kamu sendiri pasti tidak bisa mengungkapkan perasaanmu dengan kata-kata, kan? Hanya saja, perasaan itu terus kuingat; bahagia yang tak akan pernah kutukar dengan apapun di dunia ini.
Semua memang meragukan ketulusan kita. Dengan segala perbedaan yang kita punya, kita melintas batas. Kamu memang tidak seperti mereka, yang setiap malam mengirimkan pesan pendek berisi ucapan selamat malam dan tidur yang nyenyak kepada pasangannya. Kamu tidak selalu datang untuk memberi alasan kenapa kamu tidak bisa menemaniku malam minggu padahal hari-hari biasa kita juga belum tentu bertemu. Kamu kadang tidak merasa perlu membalas pesan-pesan pendekku. Kamu juga hampir tidak pernah meneleponku untuk ngobrol atau sekedar mendengar suaraku yang memang membosankan (dan ketika sekali waktu kamu melakukannya, hariku menjadi lebih bersemangat dari biasanya)—jadi aku tidak pernah tahu apakah kau memikirkan aku seperti aku selalu memikirkanmu? Seberapa penting aku bagimu? Kamu juga tidak selalu menggandeng tanganku saat kita berjalan bersama, (tapi kamu selalu menuntunku dengan cara yang tidak pernah aku tahu). Kadang kamu mendukungku dengan cara yang aneh, tapi aku tahu itulah dirimu.
Aku mencintaimu karena aku mencintaimu. Aku tidak perlu alasan untuk itu. Kamu lebih dari istimewa bagiku. Kamulah yang sanggup membuatku jatuh cinta setiap kali aku mengingatmu. Kamu adalah warna dasar duniaku. Kamu adalah merah, kamu adalah biru, kamu adalah kuning. Waktu yang kita lewati adalah dimensi dengan campuran warna yang kita buat. Karena cinta adalah berbagi, kamu mau membagi warna ceriamu untuk mendungku. Kamu juga mampu merubah panas merahku menjadi jingga yang hangat.
Aku tahu kamu juga mencintaiku, meski aku tidak pernah memahami bagaimana caramu mencintaiku.
Sayang, aku terlalu menikmatinya, sehingga aku kehilangan orientasi waktu; dan semua terasa berlalu begitu cepat, karena aku terlalu bahagia untuk mengingat waktu. Tetapi aku masih ingat kapan terakhir aku bisa membuatmu tertawa (hal yang paling membahagiakanku: membuatmu tertawa), ketika cobaan itu datang, aku tahu bukan karena cinta yang pudar. Kamu ingin merubah semua warna yang aku punya menjadi gelap. Aku menebak-nebak kenapa (semula kukira kamu menyesal, karena aku ternyata tidak seistimewa yang kamu kira), tapi aku tidak keberatan, aku yakin kamu punya alasan yang kuat melakukan itu terhadapku. Tapi ketahuilah, seperti permintaanmu, aku tidak menangis malam itu. Kamu percaya?
Eh, masih ingat tidak, aku sedang makan mie instan ketika kamu datang lagi dan mengajakku menyusuri kota selagi sore. Seperti yang kamu ajarkan padaku, cinta adalah memaafkan. Kamu memintanya sore itu, tidak perlu, karena aku sudah melakukannya jauh sebelum kamu memintanya. Dengan sedikit takut-takut (ya, kamu tahu kadang aku takut padamu), cerita selanjutnya adalah aku bahagia lagi, kemudian sedih lagi...tertawa lagi...menangis lagi... Saat bersamamu adalah kebahagiaan yang sempurna sekaligus perih yang mendalam...kamu masih bisa merasakannya? Jangan tersinggung ya, sejujurnya aku senang bisa merasakan semua, sama sekali tidak ada yang kusesali. Karena itu setiap detik bersamamu sangat berharga, tiap kesempatan penuh makna. Terima kasih ya...
Hey...aku harap surat ini tidak membosankanmu... walaupun isinya ternyata bukan hanya tentang perasaanku, tapi juga tentang cerita kita.. maaf. Kamu sudah tahu akhir cerita ini. Dan kamu juga tahu aku masih ingin mengulang cerita yang sama. Meski harus menjalani perihnya lagi, aku bersedia. Aku ingin merasakan lagi saat-saat kamu menginginkan kehadiranku. Aku masih ingin mendengar lirih suaramu saat membisikkan bahwa hanya aku yang kamu inginkan untuk hidup bersama. Aku ingin membalas tatapmu lagi saat kau berkata akulah belahan jiwamu (masih kah?). Aku masih ingin membalas dengan “ya, masku sayang?” saat kau memanggilku “cinta?”. Aku masih ingin menemanimu memancing di sungai. Aku masih ingin duduk-duduk lagi di depan pasar klithikan, walaupun kita saling berdiam diri dan kamu jarang sekali duduk menghadapku. Aku juga masih ingin merasakan lezatnya pizza mie buatanmu. Dan bukannya kita masih punya rencana ke Bromo? Aku masih selalu ingin bertualang bersama kamu (aku selalu mengkhayalkannya sejak kamu pernah hampir mengajakku ke Kalimantan, dulu). Eh, film Sweet November juga belum sempat kita tonton bersama, ya?. Waktu kita habis, katamu (kan?).—aku selalu sedih saat kamu mengucapkan itu.
Hey...sudah berapa lama ya sejak kita tidak bersama? Waktu tidak pernah relatif bagimu, tapi memang sudah lama sekali, kan? Sejak kamu semakin sukses menggapai semua yang kamu inginkan, ya? Dulu kamu pernah bilang semua kamu lakukan karena aku, untuk aku; kamu cuma ingin menyenangkan aku, kan... Eh, apakah kamu dulu bahagia denganku? Maafkan aku bertanya, kamu seringkali susah ditebak, kamu kurang pandai mengungkapkan perasaanmu sih.., jadi kadang aku tidak tahu apakah kamu bahagia atau tidak (aku bahkan sering mengira kamu selalu marah padaku). Apakah kamu lebih bahagia sekarang? Aku tahu aku tidak lagi menjadi tujuan hidupmu, tapi aku selalu mendoakan untuk kebahagiaanmu lho... Jangan lupa janjimu untuk cerita padaku jika sudah menemukan tujuan baru dalam hidupmu—beruntung sekali dia.
Hey...ragamu tidak lagi bersamaku sekarang, kamu sudah menjelma rindu dan kenangan. Ya, kita tahu kenapa kita tidak bersama sekarang. Duh, aku masih menyangkalnya. Aku masih sering bertanya; kita memang tidak bisa memilih kapan dan dikeluarga seperti apa kita dilahirkan, tapi bukankah kita bisa memilih siapa yang kita cintai? Bukankah aku dan kamu bisa menjadi satu tanpa harus meninggalkan-Nya? Tapi kamu bilang hidup harus berlanjut, aku setuju, dengan cara yang berbeda kan? Dan aku harap kamu bahagia dengan caramu. Aku hanya bisa menjaga hati ini untukmu. Sampai saat ini, aku masih menginginkan hal yang sama: aku hanya ingin kau miliki (pe-de sekali aku ini, padahal aku terlalu sederhana untuk kau miliki ya...). Dan aku janji, aku akan menjadi lebih baik dari yang kauinginkan jika itu terjadi.
Eh, ngomong-ngomong, Ibu sehat kan? Apakah beliau masih sering menanyakanku? Ah, aku selalu kangen beliau...sampaikan sungkemku untuk Ibu ya.. Kalau aku main ke kotamu, aku pasti akan selalu mampir kerumah, paling tidak untuk bertemu Ibu, sampai kamu sendiri yang akan menghentikannya.
Sampai disini saja suratku. Terima kasih kamu mau menyempatkan membacanya. Aku tidak ingin menahanmu terlalu lama karena aku mengerti sekarang 24 jam tidak pernah cukup untukmu. Kamu tidak perlu membalasnya lho...karena aku tahu kamu pasti beralasan kurang pandai dalam hal ini (walaupun, waktu remaja, kamu pandai menulis di halaman diary-mu, hehee..maafkan aku sudah mengintipnya).
Terima kasih banyak ya.

Cintamu


PS: Kamu lah segalanya bagiku; dulu, sekarang dan selamanya.

No comments:

Post a Comment